Editorial

Menyongsong Generasi Emas 2045

Roudlon, M.Pd (Pemimpin Redaksi)

Pendidikan merupakan sebuah proses untuk membentuk manusia, tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga spiritual. Cerdas intelektual dalam arti mampu berfikir saintifik dan filosofis, sementara kecerdasan spiritual menekankan kecerdasan yang berpijak pada potensi dari dimensi non-material atau illahiyah sehingga kehidupannya lebih bermakna dan bernilai. Karena itu, pendidikan sangat penting. Namun pendidikan tanpa guru, ibarat ruangan tanpa cahaya. Guru memiliki peran sangat strategis bagi dunia pendidikan, karena dari semua komponen pendidikan yang ada seperti kurikulum, sarana prasarana, metode pembelajaran, guru, siswa, orang tua, dan lingkungan, yang paling menentukan adalah komponen guru.

Dengan demikian, guru memiliki kedudukan sangat mulia, dari merekalah tercipta generasi emas Indonesia. Warna generasi emas mendatang seperti apa akan sangat ditentukan oleh eksistensi guru itu sendiri. Jadi, tantangan pendidikan berkualitas, mengharuskan guru untuk lebih kreatif, inovatif, dan inspiratif dalam mendesain kegiatan pembelajaran bermutu menyongsong generasi emas Indonesia tahun 2045 ke depan. Dengan demikian, guru menjadi kunci utama keberhasilan sumber daya manusia yang tidak hanya produktif tetapi juga unggul dan religious tentunya.

Intinya, peran pendidikan dalam mempersiapkan generasi emas 2045 menjadi sangat penting. Apalagi target yang dicanangkan pemerintah berupa munculnya generasi emas Indonesia dalam  sepuluh atau dua puluh tahun kedepan dengan meluaskan kesempatan akses pendidikan lebih tinggi sudah dilakukan. Dan upaya meningkatkan kualitas pendidikan tersebut juga mestinya sejalan dengan upaya meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan guru sebagai core dari sector pendidikan itu sendiri yang peran sertanya sudah sangat diakui tersebut.

Dan untuk mempersiapkan generasi emas Indonesia 2045, penting bagi dunia pendidikan juga melakukan perubahan pola pikir. Artinya, pendidikan tidak sekadar dimaknai sebagai transfer akademik (keilmuan) atau transfer of knowledge semata, tetapi juga dilengkapi dengan karakter. Keseimbangan akademik dan karakter inilah yang perlu disiapkan sejak sekarang. Pemerintah selalu menuntut guru untuk lebih kreatif, inovatif dan inspiratif dalam mendesain kegiatan pembelajaran bermutu untuk menyongsong generasi emas Indonesia.

Jika memang guru menjadi kunci utama, seharusnya pemerintah meletakkan kekuasaan penuh terhadap guru untuk menyusun kurikulum serta mengevaluasi. Untuk mencapai generasi emas Indonesia, diperlukan juga usaha meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia seperti meningkatkan anggaran pendidikan, manajemen pengelolaan pendidikan, membebaskan sekolah dari suasana bisnis, memperbaiki kurikulum, pendidikan agama, pendidikan yang melatih kesadaran kritis, dan pemberdayaan guru.

Memang banyak yang pesimis untuk bisa mewujudkan genarasi emas, tetapi sekarang mulai muncul harapan apalagi melihat dukungan potensi sumber daya manusia Indonesia. Tahun 2010- 2035 Indonesia memasuki periode bonus demografi, di mana usia produktif paling tinggi di antara usia anak-anak dan orang tua. Mengapa periode 2010-2035 sebagai periode bonusi demografi? tentunya kita melirik dari report Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010 di mana jumlah penduduk Indonesia usia muda lebih banyak dibandingkan dengan usia tua.

Dalam data itu terlihat, jumlah anak kelompok usia 0-9 tahun sebanyak 45,93 juta, sedangkan anak usia 10-19 tahun berjumlah 43,55 juta jiwa. Di Proyeksi pada tahun 2045, mereka yang usia 0-9 tahun akan berusia 35-45 tahun, sedangkan yang usia 10-20 tahun berusia 45-54. Tentunya pada periode tahun 2010 sampai tahun 2035 kita harus melakukan investasi besar-besaran dalam bidang pengembangan sumber daya manusia (SDM) sebagai upaya menyiapkan generasi 2045, yaitu 100 tahun Indonesia merdeka. Oleh karena itu, kita harus menyiapkan akses seluas-luasnya kepada seluruh anak bangsa untuk memasuki dunia pendidikan; mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD) sampai ke perguruan tinggi.

Tentu perluasan akses tersebut harus diikuti dengan peningkatan kualitas pendidikan, sekalipun kita semua memahami bahwa pendidikan itu adalah sistem rekayasa social terbaik untuk meningkatkan kesejahteraan, keharkatan dan kemartabatan. Sistem pendidikan masa depan bangsa Indonesia adalah pendidikan yang mengantarkan generasi masa kini menjadi generasi emas Indonesia 2045. Tepat pada tahun 2045 Indonesia 100 tahun terlepas dari belenggu penjajah. Di tahun tersebut Indonesia mengharap memiliki gold generation yang dapat membangun bangsa kearah yang lebih baik. Ketua Asosiasi Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Indonesia (ALPTKI) Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, M.Pd. menyatakan bahwa generasi ini akan menjadi generasi penduduk warga dunia yang bersifat transkultural, namun harus tetap hidup dan berkembang dalam jati diri dan budaya Indonesia sebagai sebuah bangsa yang bermartabat.

Daya saing di satu sisi dan kemampuan kolaborasi di sisi lain adalah dua polar kompetensi yang perlu bersinergi sebagai profil dasar manusia Indonesia 2045. Gambaran sosok manusia Indonesia generasi 2045 perlu menjadi pijakan dan cantolan upaya pendidikan, dan pendidikan akan memainkan peran baru dalam perspektif pengembangan sosok generasi 2045.

Menyongsong generasi emas itu juga, jurnal Cendekia terus ikut berbenah sebagai bentuk ikut berpartisipasi sekecil apapun. Di antara yang dilakukan adalah dengan terus menyajikan hasil kajian ilmiah dan penelitian terkait dengan pendidikan, sehingga diharapkan juga menjadi referensi di dunia pendidikan.Dalan edisi kali ini, kami akan menyajikan karya tulisan ilmiah hasil research (penelitian) dari para penulis hebat, dua di antaranya adalah hasil research doctor. Yakni, Dr. Abdul Main, S.Ag., SS., M.Hum yang menulis hasil penelitiannya di India terkait implementasi ICT terintegrasi antar sekolah dengan jaringan lintas sektoral berdasarkan studi kasus di India.

Tulisan yang juga ikut diturunkan dalam edisi kali ini adalah karya milik Dr. Dwi Aprilianto, Lc.M.Hi. Tulisannya merupakan hasil research terkait maslahah hukum Islam dalam menjawab problematika kontemporer. Karya ilmiah tersebut dibuat berangkat dari kajian berbagai isu kekinian dalam Perubahan Hukum Islam, sehingga menuntut para ulama menjawab isu-isu tersebut dengan pertimbangan pendekatan maslahah dan illat. Penggunaan pendekatan maslahah dan illat didasarkan pada pertimbangan apakah pandangan tentang keberadaan sesuatu yang akan diputuskan mengandung manfaat yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat dan dapat menghindarkan mereka dari Kerusakan atau tidak? Dengan kata lain, penetapan hukum berdasarkan pertimbangan maslahah dan pendekatan illat harus mengarah pada maqashid al-Syar’iyah, yaitu penciptaan keutamaan dan kemanfaatan bagi kehidupan manusia serta menghindarkannya dari kesusahan yang berujung pada kerusakan.

Selain dua karya tersebut, masih banyak tulisan ilmiah lain yang merupakan karya penulis hebat yang juga ikut kami turunkan dalam edisi kali ini. Kami berharap, ikhtiar kami ini bisa memberi sumbangsih meski itu kecil terhadap perjalanan bangsa ini menuju Indonesia Generasi Emas 2045. (*)

.